Effectiveness of Complementary Therapies for Reproductive Health Disorders and Menopausal Symptoms in Women: A Systematic Review
DOI:
https://doi.org/10.56861/kkbh.v12i1.111Keywords:
fungsi seksual menopause, genitourinary syndrome of menopause; terapi komplementer; yoga;Abstract
Transisi menopause dapat disertai keluhan vasomotor, gangguan tidur, perubahan psikologis, gejala urogenital/genitourinary syndrome of menopause (GSM), penurunan fungsi seksual, dan penurunan kualitas hidup. Terapi hormon menopause tetap merupakan terapi paling efektif untuk gejala vasomotor dan GSM pada kandidat yang sesuai, tetapi sebagian wanita memilih atau membutuhkan pendekatan nonhormonal. Karena itu, intervensi komplementer perlu dievaluasi berdasarkan bukti mutakhir. Menganalisis efektivitas dan keamanan intervensi komplementer terhadap gangguan kesehatan reproduksi dan gejala menopause berdasarkan penelitian primer yang diterbitkan pada jurnal terindeks Scopus selama 2021–2025. Systematic literature review dengan sintesis naratif disusun mengikuti prinsip PRISMA 2020. Penelusuran terstruktur dilakukan pada PubMed/MEDLINE, laman penerbit, dan penelusuran bibliografis untuk publikasi 1 Januari 2021–31 Desember 2025. Studi yang dipilih merupakan uji klinis terkontrol pada wanita peri-, menopause, atau pascamenopause yang mengevaluasi terapi komplementer terhadap gejala vasomotor, somatik, psikologis, urogenital, fungsi seksual, tidur, atau kualitas hidup. Jurnal dibatasi pada sumber yang memiliki cakupan Scopus pada periode publikasi. Karena heterogenitas intervensi dan outcome, meta-analisis tidak dilakukan. Empat belas studi primer memenuhi kriteria sintesis. Intervensi mencakup Aloe vera vaginal, Jazar herbal supplement, ashwagandha, Panax ginseng, nutraceutical multibotanical, yoga, akupunktur dan Chinese herbal medicine, aromatherapy massage lemon/peppermint, auricular acupressure, acupressure, laughter yoga, mindfulness-based stress reduction, progressive muscle relaxation, Rosa damascena, dan ginseng. Sinyal manfaat paling konsisten terlihat pada yoga/mind-body untuk gejala menopause dan tidur, intervensi relaksasi untuk tidur/fatigue, serta beberapa phytotherapy untuk fungsi seksual dan keluhan urogenital. Namun, ukuran sampel umumnya kecil–sedang, formulasi herbal bervariasi, dan generalisasi dibatasi oleh heterogenitas serta konsentrasi geografis studi. Terapi komplementer berpotensi menjadi terapi pendamping untuk beberapa gejala menopause, terutama keluhan tidur, psikologis, kualitas hidup, fungsi seksual, dan sebagian gejala urogenital. Bukti belum mendukung penggantian terapi standar oleh terapi komplementer. Penggunaan klinis harus mempertimbangkan diagnosis, keamanan, interaksi obat-herbal, preferensi pasien, dan keputusan bersama dengan tenaga kesehatan.