Effectiveness of Complementary Care for Primary Dysmenorrhea in Adolescent Reproductive Health: A Systematic Review
DOI:
https://doi.org/10.56861/kkbh.v12i1.110Keywords:
dismenore primer; kesehatan reproduksi remaja; terapi komplementer; akupresur; yogaAbstract
Dismenore primer merupakan salah satu masalah kesehatan reproduksi yang sering mengganggu aktivitas, konsentrasi belajar, kehadiran sekolah, dan kualitas hidup remaja putri. Pendekatan komplementer dan nonfarmakologis penting dipertimbangkan karena dapat mendukung self-care, relatif mudah diterapkan, dan pada beberapa metode memiliki risiko efek samping yang rendah. Tujuan: Menganalisis bukti lima tahun terakhir mengenai efektivitas asuhan komplementer terhadap nyeri dan gejala dismenore primer pada remaja putri serta kelompok remaja akhir/perempuan muda yang relevan. Telaah sistematis dengan sintesis naratif dilakukan terhadap artikel primer periode 2021–2025. Artikel ditelusuri melalui PubMed, laman penerbit, SINTA/Garuda, serta penelusuran bibliografis, kemudian diverifikasi status sumber jurnalnya. Kriteria utama adalah studi intervensi pada dismenore primer, intervensi komplementer/nonfarmakologis, luaran nyeri atau gejala menstruasi, dan publikasi pada jurnal SINTA 2 atau jurnal terindeks Scopus. Sepuluh artikel primer dipilih: satu artikel SINTA 2 dan sembilan artikel dari jurnal Scopus. Intervensi yang ditemukan meliputi Spiritual Emotional Freedom Technique (SEFT), akupresur, yoga, Pilates, progressive muscle relaxation/Jacobson relaxation, massage, stretching exercise, kinesio taping, auricular acupressure, serta virtual-reality-based relaxation/exergaming. Bukti paling konsisten mendukung akupresur, teknik relaksasi progresif, dan latihan mind-body/olahraga. Studi yang benar-benar spesifik pada remaja sekolah masih lebih sedikit daripada studi pada mahasiswi atau perempuan muda. Asuhan komplementer berpotensi menurunkan nyeri dan memperbaiki gejala dismenore primer, dengan akupresur, relaksasi progresif, yoga/Pilates, dan kombinasi massage-relaxation sebagai pilihan yang paling didukung bukti dalam studi yang ditelaah. Implementasi pada remaja perlu memperhatikan keamanan, pelatihan teknik, preferensi individu, dan skrining terhadap kemungkinan dismenore sekunder.